22 Tahun JIP, Apa Kabar Mahasiswa dan Alumninya?

Oleh Alief Arya Wahyudhi

Di Indonesia kehadiran pendidikan Ilmu Perpustakaan dimulai sejak tahun 1961. Universitas Indonesia (UI) sebagai lembaga pendidikan yang membuka jurusan tersebut. Kemudian seiring dengan berjalannya waktu, Universitas Indonesia sebagai promotor lembaga pendidikan lain untuk mendirikan  jurusan tersebut. Jurusan Ilmu Perpustakaan saat ini berjumlah 33, yang tersebar di PTN dan PTS di seluruh Indonesia.

            Tepat hari ini pada tanggal 5 Mei 2021, berdasarkan  SK Direktur Jenderal Pembinaan Agama Islam Departemen Agama RI Nomor: E/86/1999 tanggal 5-5-1999 jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Alauddin Makassar berdiri. Sudah 22 tahun Jurusan ini telah mewarnai dunia perpustakaan, usia yang cukup matang dalam  menentukan sikap dalam membantu menyelesaikan masalah pendidikan di Indonesia. 

            Sudah dua dekade lebih  jurusan tersebut berdiri di UIN Alauddin Makassar. Seperti halnya seseorang yang merayakan hari ulang tahunnya, tentu saja mahasiswa Ilmu Perpustakaan merasakan kebahagiaan. Karena, usia merupakan salah satu indikator kedewasaan seseorang. Namun, pantaskah jurusan Ilmu perpustakaan kali ini merayakan dan  merasakan kebahagiaan, di tengah kondisi jurusan Ilmu Perpustakaan yang masih menuai banyak masalah.

            Momen milad kali ini seyogyanya dijadikan sebagai ajang untuk refleksi diri, mengingat jurusan Ilmu Perpustakaan dari awal berdirinya sampai sekarang belum mempunyai dampak signifikan untuk  dunia literasi dan perpustakaan di Indonesia, Jangan sampai momen seperti ini dijadikan ajang euforia semata dengan potong tumpeng. Kita jangan lupa dengan masalah – masalah yang terjadi pada jurusan.

            Oleh karena itu, mari kita melihat masalah apa yang terjadi. Jurusan Ilmu perpustakaan sebagai pencetak gatekeeper atau pustakawan seharusnya menempati posisi yang ideal yang ada di perpustakaan yaitu pustakawan. Senada dengan itu, visi dari jurusan ilmu perpustakaan UIN Alauddin Makassar adalah, kiblat dalam integrasi ilmu perpustakaan dengan kajian keislaman dalam melahirkan pustakawan profesional di Indonesia Timur tahun 2025.

            Selama kurun waktu dua dekade terakhir ini, jurusan Ilmu Perpustakaan di UIN Alauddin Makassar mencetak ribuan calon pustakawan, tetapi faktanya, menurut pusat pengembangan pustakawan perpusnas, jumlah pustakawan di Sulawesi selatan  berjumlah 425 pustakawan dan hanya sekitar 60 pustakawan yang telah tersertifikasi, yang meliputi: perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan khusus, perpustakaan nasional, dan perpustakaan umum. Dari data tersebut terindikasi bahwa kurang berkontribusinya jurusan ini dalam mencetak pustakawan yang ada di Sulawesi Selatan. Nah, dari data tersebut kita dapat menarik sebuah kesimpulan bahwa ketika lulusan yang dihasilkan itu tidak mempunyai kontribusi di bidang perpustakaan maka, masalah-masalah yang hadir di bidang literasi dan perpustakaan itu tidak dapat teratasi dengan maksimal

            Padahal, pada tahun 2019 jurusan ini telah meraih akreditasi A dari Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT). Akreditasi ini, merupakan suatu pencapaian yang cukup memuaskan untuk menunjang daya saing mahasiswa dan lulusannya kedepan. Tetapi fakta- fakta yang terkuak di lapangan kurangnya integritas mahasiswa dan lulusannya sehingga akreditas itu perlu di pertanyakan.

       Seharusnya, peran mahasiswa dan alumni perlu dipertanyakan sebagai pemegang kendali untuk dunia literasi dan perpustakaan kedepannya. Karena kemunculan Ilmu Perpustakaan di Sulawesi Selatan, seharusnya mempunyai implikasi yang nyata untuk dunia literasi. Namun menurut survei kemendikbud, Sulawesi Selatan masuk zona merah terhadap masalah buta aksara yang ada di Indonesia. Ketika penyebaran buku kurang ke masyarakat, indeks minat membaca pun akan  dan terjadi dan mengakibatkan buta aksara tidak bisa dihindari. Salah satu yang terjadi menurut survei, Kemendikbud, ada 6 wilayah yang penduduknya masih memiliki kasus buta aksara tertinggi. Daerah tersebut adalah Papua 21,9%, Kalimantan Barat 3,81%, Nusa Tenggara Timur 4,24%, Nusa Tenggara Barat 7,46%, Sulawesi Selatan 4,22%, dan Sulawesi Barat 3,98%.

             Jumlah perpustakaan dan buku yang terbit setiap tahunnya di Indonesia dianggap belum ideal, untuk menopang tingkat literasi di Indonesia. Alhasil menurut riset central connecticut state university, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke- 60 dari 61 negara yang minat membacanya paling rendah. Nah, di sini peran mahasiswa perpustakaan sangat dibutuhkan dalam hal  “menjemput bola” terjun langsung kelapangan dalam melihat kondisi masyarakat.

Lalu sampai di sini, di mana peran kita sebagai mahasiswa dan alumni?

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles