Analisis Faktor Penyebab Rendahnya Kebiasaan Membaca Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan Angkatan 2020 UIN Alauddin Makassar

Oleh: Kelompokk IV_Sekolah Riset

Kebiasaan adalah hal-hal yang sering dilakukan atau perilaku yang berulang-ulang dilakukan dan pada akhirnya membentuk sebuah kebiasaan, Sehingga kita akan melakukannya tanpa memikirkan praktik dan kebiasaan tersebut. Dalam Istilah Bordieu (2020), hal tersebut termasuk dalam habitus. Menurut Bordieu habitus adalah kebiasaan yang sudah melekat dan  dilakukan secara berulang-ulang oleh manusia dalam kehidupan sehari-harinya.

Kebiasaan tentu tidak terbentuk dengan sendirinya, tapi ada beberapa Faktor yang mempengaharui terbentuknya sebuah  kebiasaan, yaitu faktor lingkungan, modal sosial, modal ekonomi dan modal pengetahuan yang dimiliki individu dan keluarga. Melalui proses pembelajaran yang didapatkan di lingkungan keluarga, masyarakat maupun institusi pendidikan mempengaruhi kebiasaan, proses tersebut berjalan secara halus, terstruktur dan sistematis mempengaruhi kesadaran dan pengalaman individu.

Faktor selanjutnya adalah modal. Modal sangat menunjang kebiasan individu dalam praktik kesehariannya. Individu dengan modal sosial dan ekonomi yang cukup akan memiliki praktik yang berbeda dengan individu yang memiliki modal ekonomi dan sosial yang lemah. Contoh sederhana, seseorang yang terlahir dalam keluarga yang kaya memiliki banyak opsi untuk memilih sekolah mana yang akan dia tuju, mengikuti les privat, maupun membeli buku-buku yang dapat menunjang pengetahuannya sedangkan seseorang dengan kemampuan ekonomi lemah, tidak memiliki banyak opsi dalam mendukung praktik dalam kesehariannya. Oleh karenanya, posisi mereka dalam struktur sosial tentu juga akan berbeda.

Praktik dan kebiasaan tersebut adalah hal yang berlangsung lama namun bukanlah sesuatu yang tidak dapat berubah. Ada pribahasa mengatakan jika ingin menjadi orang yang sukses maka berkumpullah bersama orang-orang yang pintar, kalimat tersebut menjelaskan bahwa dalam kondisi tertentu di lingkungan tertentu individu dapat menginternalisasi pengalaman dan pengetahuan yang berbeda-beda yang pada akhirnya pengalaman dan pengetahuan tersebut dapat mempengaruhi dan merubah habitus yang selama ini dilakukan.

Habitus merupakan produk sejarah yang terbentuk setelah manusia lahir dan berinteraksi dengan masyarakat dalam ruang dan waktu tertentu. Habitus bukan bawaan ilmiah atau kodrat tetapi hasil pembelajaran lewat pengasuhan dan bersosialisasi dalam masyarakat. Proses pembelajarannya sangat halus dan tampil sebagai hal yang wajar. Proses pembelajaran ini dapat berasal dari keluarga, lingkungan sosial dan institusi Pendidikan.

Habitus ini dapat bertahan lama, namun disisi lain juga dapat berubah dari waktu ke waktu, tergantung dari faktor yang mempengaruhi personal seseorang, praktik dan kegiatan yang dilakukan dari kecil yang di bentuk oleh lingkungan keluarga dapat di gantikan oleh praktik. Maka kegiatan sebelumnya yang sering dilakukan akan di gantikan dengan kegiatan baru, dan seterusnya akan begitu, selama kita berada dalam lingkungan yang berbeda-beda atau ada perubahan dalam pola fikir kita sendiri.

Bagaimana Kebiasaan Membaca Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan?

Berdasarkan hasil riset yang dilakukan oleh kami, informan memberikan jawaban yang beragam, namun yang mendominasi, informan jarang membaca. Mereka membaca  sekitar dua buku dalam sebulan, jadi diperkirakan setiap satu buku berjumlah 150 halaman dikali dua buku dalam waktu satu bulan dengan waktu ideal membaca tujuh jam (150×2:30:7=1,43), Jadi dapat dikatakan informan hanya membaca kurang dari satu lembar perjam.  Kami juga menelusuri penyebab mengapa mereka jarang membaca, informan menjawab, Kendala mereka dalam membaca adalah karena terdistraksi oleh sosial media, penggunaan handphone berlebihan dan pengaruh lingkungan yang tidak mendukung kebiasaan membaca serta koleksi/buku yang tidak memiliki oleh informan.

Jika dilihat dari seringnya informan berkunjung keperpustakaan, Rata rata informan mengunjungi perpustakaan tidak lebih dari 4 kali setiap bulannya, untuk mengerjakan tugas dan kegiatan lainnya.  Itupun saat berkunjung ke perpustakaan informan hanya menggunakan perpustakaan sebagai tempat untuk mengerjakan tugas dan menikmati fasilitas yang tersedia di perpustakaan.

Rendahnya kebiasan membaca mahasiswa jurusan ilmu perpusatakaan Angkatan 2020 karena tidak adanya upaya jurusan untuk melakukan proses habituasi agar mahasiswa sering membaca setiap harinya. Hal ini dibuktikan dengan fakta yang kami dapatkan di lapangan pada saat melakukan wawancara, sebagian besar informan mengatakan pernah disarankan untuk membaca referensi tertentu seperti buku, jurnal, dan artikel untuk menambah wawasan, referensi dan mengerjakan tugas yang diberikan oleh dosen yang bersangkutan. Namun, hanya sebagian kecil dosen yang menyarankan mahasiswa untuk membaca referensi  yang berkaitan dengan mata kuliah yang diampuh. Pun, referensi yang disarankkan untuk dibaca hanya buku-buku yang ditulis oleh dosen yang bersangkutan ataupun materi berupa ppt dan pdf yang telah dibuat oleh dosen. Dari banyaknya mata kuliah hanya  dosen pengampuh mata kuliah kosa kata indeks, bahan rujukan umum, temu balik informasi dan katalogisasi yang menyarankan untuk membaca referensi diluar dari materi yang telah disusun oleh dosen sebagai rujukan alternatif.

Disisi lain fakta lucu yang kami dapatkan dilapangan adalah Keseluruhan informan mengatakan bahwa kebiasaan membaca itu sangat penting karna menambah wawasan, ternyata kebanyakan mereka menyadari hal tersebut tapi tidak mengaktualisasikannya.

Membayangkan upaya yang harus dilakukan untuk meningkatkan kebiasaan membaca

Melihat fakta rendahnya kebiasaan membaca tentu sebuah hal yang miris, harusnya institusi atau jurusan melakukan sebuah upaya melalui rekayasa pendidikan dan rekayasa sosial sedini mungkin, dimana kebiasaan membaca itu sendiri dibentuk oleh Pendidikan dan lingkungan tempat dimana proses sosialisasi dilakukan.

Upaya habituasi itu dapat dilakukan apabila secara terstruktur dan sistematis jurusan sebagai insitusi membentuk satu formula atau sistem tertentu dalam setiap mata  kuliah untuk membiasakan mahasiswa untuk membaca referensi yang dapat menunjang kebutuhan pengetahuan disetiap mata kuliah yang diajarkan. Pengenalan terhadap bahan bacaan tersebut dapat menggunakan metode membaca secara konvensional ataupun dengan media digital yang telah tersedia sembari menanamkan kesadaran bahwa pembelajaran sepanjang hayat utamanya bagi mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan sebagai garda terdepan dalam kemajuan literasi adalah hal yang mutlak.

*Penulis merupakan peserta Sekolah Riset Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP) UIN Alauddin Makassar*

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles