Apakah Anime Hanya Tontonan Anak-anak?

Oleh: A. Zahraturugaisyiyah

Di abad 21 ini tepatnya dua tahun terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Sebagaimana kita ketahui pada tahun 2020, Indonesia mengalami pandemi yang menyebabkan kita masyarakat Indonesia harus menerapkan kebiasaan Stay at home.

Kebiasaan ini menyebabkan mayoritas orang harus berdiam diri di rumah tanpa adanya kontak sosial, meskipun kita masih bisa menjalin hubungan sosial secara online. Namun menurut saya hal itu tidak cukup untuk memenuhi hasrat emosional kita sebagai manusia.

Hal ini mungkin saja sebuah kabar baik bagi mereka yang mempunyai kepribadian anti sosial ataupun introver tapi bagaimana dengan mereka yang mempunyai kepribadian ekstrover.

Jujur, saya adalah salah satu bagian dari mereka yang ekstrover. Pada masa pandemi ini saya hampir stress dikarenakan tugas kuliah yang membludak, sampai saya menangis, sehingga orang tua saya bingung harus melakukan apa? Dari sini saya berusaha mencari suatu hiburan di aplikasi Tik Tok.

Di karenakan hal tersebut, saya berinisiatif untuk mengunduh aplikasi TikTok yang merupakan salah satu sosial media. Saya mempunyai stereotip bahwa TikTok itu di download hanya oleh orang-orang yang “kampungan” atau gemar bergoyang tapi ternyata saya salah dalam menginterpretasikan TikTok.

Dari TikTok ini lah saya mendapatkan edukasi secara singkat dan padat, dimulai dari pengetahuan sains, sosial sampai hal-hal yang bermanfaat bagi kehidupan kita sendiri, seperti saya, sebelumnya belum tahu bagaimana take screenshot di laptop. Jadi, di situlah saya mencoba mencari hal tersebut di TikTok akhirnya saya menemukannya hanya dengan menekan tombol Windows bersamaan tombol PrtSc.

Sampailah dimana, di fyp (for your page) saya lewat sebuah akun Anime yang menampilkan salah satu karakter Anime dari Boku no Hero Academia yang bernama Todoroki Shouto. Video ini yang mendorong saya untuk mengunduh anime Boku no Hero Academia karena saya penasaran bagaimana karakter Todoroki Shouto.

Berbicara tentang Anime, menurut Komunitas J-KUMI (Japan Komuniti UIN MALIKI) dalam skripsi oleh Isma Millah, memaparkan bahwa Anime merupakan sebuah karya seni atau sastra berupa gambar bergerak yang dapat dinikmati masyarakat luas mulai dari anak-anak hingga dewasa.

Setelah menonton Anime ini semangat saya mulai bangkit untuk bermimpi dan memiliki jiwa humanis. Kalau dinonton Anime menceritakan sebuah karakter anak laki-laki yang bernama Midoriya Izuku yang mempunyai mimpi menjadi pahlawan untuk menyelamatkan orang-orang yang kesusahan. Awalnya saya kecewa dengan karakter utamanya karena saya mengira Todoroki shouto adalah karakter utama, namun hal itu tidak membuat penilaian saya menurun terhadap Anime ini.

Sebenarnya saya telah menyukai Anime dari usia remaja, tetapi yang saya gemari yaitu Detektif Conan dan Naruto. Saya mengira Anime itu dibuat untuk anak-anak kecuali dua Anime yang saya sebutkan tapi perkiraan saya salah.

Anime juga merubah cukup mengubah cara saya memandang kehidupan dunia. Banyak hal yang saya dapatkan dalam Anime, salah satu yang paling saya ingat ialah Anime yang berjudul Haikyuu yang menceritakan anak SMA Karasuno yang bernama Hinata Shouyo yang memiliki Growth mindset.

Haikyuu ini sendiri pernah di bahas dalam channel Youtube satu persen yang berjudul “belajar growth mindset dari Anime”. Selain haikyuu, channel satu persen juga pernah membahas tentang Anime One Piece, Attack on Titan dll.

Dari situlah saya mulai menjelajahi Anime dengan pelbagai genre bahkan saya bisa menonton genre horror yang sebelumnya saya hindari. Saya berpikir antara Anime dan film lainnya tidak punya perbedaan yang signifikan kalau soal genre. Toh selera orang berbeda-beda, kita tak bisa mengkotak-kotakan kalau Anime orientasinya hanya untuk anak-anak, sedangkan film orientasinya untuk usia tujuh belas tahun ke atas.

Hal ini sebenarnya tidak terlalu besar bagi sebagian orang namun, hal ini bagi saya menjadi concern di kehidupan pribadi sebagai penggemar Anime. Orang-orang menganggap saya bocah kecil karena menyukai anime yang notabenenya adalah tontonan untuk anak-anak di bawah umur. Jika di telaah Anime juga mempunyai genre-genre dewasa contohnya genre hentai bahkan ada beberapa genre yang merujuk LGBT seperti Yuri (GxG) dan Yaoi (BxB). Dilansir dari gramedia.com ada sederet genre anime seperti Josei dan Seinen yang di peruntukkan untuk orang-orang yang berusia 18-45 tahun.                                                                                                                                        

Maka dari itu,  saya sebagai Anime Lovers tidak terima jika ada oknum yang menganggap jika Anime hanya sekadar tontonan anak-anak, hal tersebut tersebut cara pandang yang keliru.

Anime ini tidak hanya digunakan untuk menghibur, lebih dari itu Anime adalah produk kebudayaan yang mewakili cara pandang kelompok masyarakat tertentu. Oleh karenanya Anime kerap kali dijadikan sebagai bahan penelitian. Beberapa mahasiswa di Indonesia pernah meneliti Anime dalam bentuk skripsi, seperti jurnal yang di tulis Elga Andina yang berjudul “Anime dan Persepsi Budaya Kekerasan pada Anak Usia Sekolah”, skripsi yang di tulis oleh Indah Permata Sari yang berjudul “Pengarus Terapaan Anime di Media Massa Terhadap Gaya Hidup Perilaku Anggota Islamic Otaku Community (IOC) Episode UIN Jakarta” dan banyak lagi kalau kalian menjelajahi di internet.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles