Perpustakaan dan Analoginya

Oleh Jherio Wiranda

Banyak pertanyaan tentang perpustakaan, diantaranya, apakah perpustakaan sudah bermasyarakat? Apa seharusnya fungsi pengelola perpustakaan dalam hal ini pustakawan. Apa yang harus mereka lakukan demi mewujudkan kata “Perpustakaan untuk masyarakat”? dan Apakah perpustakaan sudah menjadi ruang publik bagi semua kalangan? Serta banyak pertayaan lainnya seputaran perpustakaan.

Dari sekian pertanyaan yang diajukan tentang dinamika perpustakaan Indonesia hari ini yang tentu saja membutuhkan jawaban dari para pemerhati perpustakaan, baik itu pustakawan maupun pemustaka.  Sebab melihat kondisi hari ini di mana perpustakaan kehilangan fungsi sebenarnya sebagai tempat perolehan pengetahuan, sedang ilmu pengetahuan adalah salah satu kebutuhan dasar bagi manusia untuk berkehidupan.

Meskipun perpustakaan sedemikian pentingnya tetap saja hanya sekedar bayang-bayang remeh-temeh yang menggantung di kepala banyak orang. Dalam banyak kepala, hanya tergambar bayangan tentang cafe yang menyuguhkan makanan nikmat, atau pasir putih dan birunya laut di pantai, sejuknya udara di atas pegunungan, atau asyiknya bermain game online 24 jam. Nah, inilah contoh penyebab orang-orang lalai akan fungsi sebenarnya dari perpustakaan.

Perpustakaan belum bisa melampaui kekuatan tempat makan, destinasi wisata, ataupun produk teknologi sebagai pelebur kaku. Saya pikir perpustakaan hanya benda mati, ia tak bisa berubah sendiri tanpa manusia kehendaki. Perpustakaan tak bisa menampakkan fungsi dan menekankannya pada banyak orang secara sendiri-sendiri. Yah itu sebuah keniscayaan.

Sesuatu dapat terjadi ketika seseorang tak ingin membaca akibat pekerjaan lebih penting dari ilmu pengetahuan. Padahal pekerjaan juga butuh pengetahuan berkenaan dengan pekerjaan yang di gelutinya. Hal ini yang sering terjadi di luar sana. Suatu keadaan ironi ketika tempat-tempat lain serta pemikiran-pemikiran tersebut bisa mematikan fungsi perpustakaan.

Terlebih lagi masih banyak daerah yang membutuhkan bacaan, tapi bahan bacaannya tidak ada. Setumpuk masalah yang nyata ini seharusnya menjadi catatan penting bagi para pustakawan untuk dituntaskan. Keadaan ini pula mengindikasikan bahwa perpustakaan belum memasyarakat. Kembali lagi, bahwa seisi perpustakaan adalah benda mati, yang membuatnya berarti adalah pengelolanya yakni pustakawan.

Melihat UUD 1945, termaktub dalam alinea ke-4 yakni mencerdaskan kehidupan bangsa. Tugas  pencerdasan ini, salah satunya dijalankan oleh pustakawan yang telah mendapatkan tempat teduh dalam sistem kepegawaian negeri berbasis profesi. Maka itu mereka pun diharap bisa menyuluh cita-cita bangsa tersebut.

Pustakawan memiliki kewajiban membangun dan mendayagunakan perpustakaan secara berkemajuan yang berorientasi kepada kepentingan masyarakat secara berkelanjutan dan menyeluruh guna menciptakan suatu lingkungan yang berperadaban. Gerakan  yang harus terbangun adalah berusaha memasuki tatanan masyarakat hingga ke akar rumput. Sebab masyarakat tak otomatis tahu akan fungsi sebuah perpustakaan.

Pustakawan harus cerdik menyemai pemahaman dari deretan fungsi perpustakaan. Tanpa itu, apalah guna buku banyak jika tak ada pembacanya. Demikian juga, apa guna informasi yang berkualitas tanpa ada yang ingin tahu bahkan menelusurinya. Bahkan gedungnya yang tinggi sia-sia belaka jika tak banyak pengunjung.

Bagi pustakawan yang telah paham dan mengerti peran perpustakaan, sesungguhnya miris kala melihat masyarakat/pemustaka tak berkunjung secara rutin. Prihatin dengan orang yang bermasa bodoh dengan perpustakaan atas segala isinya.

Kita tidak dapat menyalahkan masyarakat, salahkan diri anda, mengapa antusiasme berkunjung dan menggunakan perpustakaan masih sangat rendah. terutama dalam masyarakat desa, masyarakat tak menganggap perlu perpustakaan, yang jelas bahwa ia bisa bekerja dan makan. Bertanyalah pada diri sendiri mengapa anggapan masyarakat seperti itu, bahwa perpustakaan hanya persoalan tidak penting, dan bahkan tidak di perlukan untuk ada dalam kehidupan. Mengapa masyarakat tidak terlalu antusias untuk berkunjung sedang setiap pekerjaan butuh pengetahuan yang tentu termuat di dalam perpustakaan. Nah dalam keadaan bermenung kita berusaha untuk mencari pemecahan masalah.

Dewasa ini para pustakawan tak terlalu punya  hubungan emosional dengan masyarakat sehingga pemahaman-pemahaman akan pentingnya sebuah perpustakaan tak lekas tersampaikan. Membangun hubungan dengan masyarakat haruslah di lakukan mulai dari sekarang, karena yang dekat dengan masyarakat adalah masyarakat itu sendiri, jadi seyogyanya pustakawan mampu mengenali, mempelajari, dan mempererat tali silaturahmi bercorak literasi kepada bagian-bagian dalam suatu masyarakat. Sampai kemudian di peroleh keadaan di mana masyarakat akan terbiasa dengan perpustakaan, hingga mengerti akan fungsi perpustakaan sebagai penunjang kehidupan yang berperadaban. Contohnya saja jika lembaga perpustakaan mampu mendayagunakan ibu-ibu PKK, atau karang taruna, akan terbentuklah sebuah taman baca dan komunitas literasi di bawah naungan perpustakaan desa.

Lewat pustakawan, perpustakaan harus bisa mengedepankan kepentingan rakyat, namun dalam konteks perpustakaan yah. Untuk mewujudkan “Perpustakaan untuk masyarakyat” sebenarnya bisa di tunaikan oleh para pustakawan. Namun ini butuh kerja keras dari para pengelolanya. Pustakawan di harapkan mampu membuat perpustakaan yang di inginkan masyarakat, hingga masuklah perpustakaan dalam kebutuhan suatu masyarakat agar  pembangunan perpustakaan akan sangat di respon baik.

Dari bermacam bentuk perpustakaan mulai dari perpustakaan konvensional, hybrid, maupun digital, dari jenis-jenis perpustakaan mulai dari perpustakaan pemerintah, daerah, sekolah, perguruan tinggi, maupun desa itu semua hanya untuk masyarakat. Namun lagi-lagi yang jadi pertanyaan di sini apakah perpustakaan itu sesuai dengan apa yang di damba-dambakan oleh masyarakat sehingga perpustakaan di anggap tempat ternyaman untuk belajar. Banyak yang berkata perpustakaan itu untuk masyarakyat, akan tetapi kenyataannya belum sepenuhnya terwujud akibat masalah pemahaman yang belum tertanam serta tidak adanya akses untuk dapat memakai bacaan tersebut. Inilah tantangan terbesar pustakawan, untuk meratakan bacaan/informasi mungkin jangan di titik beratkan pada kemampuan tapi kemauan, sekiranya jika sudah ada kemauan pastilah kemampuan akan terpenuhi.

Dalam dunia pustakawan mewujudkan “perpustakaan untuk masyarakat” sebenarnya masih abu-abu, penyebabnya bukan karena kemampuan yang rendah, tapi dari segi kemauannya. di karenakan masih banyak pustakawan yang menutup diri dan tak mau tau setumpuk masalah-masalah yang berkaitan tentang perpustakaan. Pustakawan kurang mengeksploitasi sisi emosional masyarakat. Kebanyakan pustakawan hanya tinggal di tempat bersama buku tamunya, duduk manis di tempat sibuk dengan buku yang akan di klasifikasinya.

Melihat keadaan hari ini, banyak yang menganggap perpustakaan biasa-biasa saja, tak terlalu asyik sebagai tempat menukar ilmu antara banyak kepala, tak nyaman sebagai tempat rekreasi dalam nuansa edukasi, akibat peraturan yang sepihak, tak asyik karena kakunya pelayanan, membosankan seperti penjara, terlalu sunyi, seperti di rumah sakit saja. Seharusnya perpustakaan hadir sebagai ruang publik, menampung banyak orang yang berbeda karakter, suku, ras, agama, maupun usia. Ruang berdemokrasi yang baik dalam menyarankan bacaan dan bahan diskusi, tempat belajar yang asyik, tempat bersantai yang paling nyaman dalam nuansa edukasi, tempat bedah informasi, pergelaran seni sastra dan seni lainnya.

Perpustakaan masih terlalu kaku sekarang. Masih itu-itu saja, sekedar sebagai tempat mengerjakan tugas, sebagai tempat penyedia wifi saat kuota ludes terpakai, sebagai tempat kunjungan yang hanya di nomor tigakan setelah tempat lain.

Saya analogikan perpustakaan itu sebagai “Air” tak seperti WC kalau menurut Pak Blasius Sudarsono, urat nadi kalau menurut Pak Quraisy, dan makanan kata pikirku kemarin. Tubuh manusia mengandung 80% Air, dalam kehidupan sehari-hari air sangat di butuhkan, untuk mandi, cuci pakaian, menyiram tanaman untuk kemudian tanaman itu di konsumsi, ataupun untuk di minum guna menghindari dehidrasi. manusia takan bisa hidup tanpa air, bisa saja seseorang tak makan dalam beberapa hari dan hanya menkonsumsi air. Nah kita tahu air merupakan sumber kehidupan yang sangat mendasar bagi suatu makhluk terutama manusia. tak ada pertumbuhan yang baik tanpa air, ini sudah jadi kebutuhan yang menyeluruh, begitulah analoginya pikirku karena perpustakaan merupakan kebutuhan hidup yang tidak di sadari oleh banyak orang. Padahal perpustakaan mampu menyegarkan akal, melepas dahaga orang-orang yang haus intelektual, mengusir otak yang sakit akibat salah pemikiran. Layaknya endapan air yang menumbuhkan oase di tengah padang pasir perpustakaan hadir menumbuhkan makhluk serta sebagai harapan manusia di tengah-tengah pengembaraannya. Perpustakaan bak air dalam sebuah sumur, bisa mempertemukan banyak orang dalam satu kepentingan, untuk cerdas.

Air maupun perpustakaan adalah benda mati, ia tak berarti jika si pengelolah tak membuatnya berguna dan si pemakai yang tak menganggapnya berarti. Contoh kasus seseorang yang berlama-lama duduk di depan mesin jahit, berjam-jam tanpa minum, hingga terjangkitlah ia penyakit ginjal. Ia menganggap air adalah sebuah remeh-temeh belaka hingga akibatnya fatal. Air sebagai sesuatu yang bisa menciptakan kehidupan yang sehat, menghadirkan lingkungan yang kondusif. Begitupun dengan perpustakaan jika tak diolah dengan baik dan di pahamkan pentingnya ia tak akan berarti di benak banyak orang. Seharusnya dengan perpustakaan kita bisa membangun kehidupan yang lebih baik, membuat akal sehat, menciptakan kehidupan bermoral, dan berkompetensi, ia hadir membasmi masalah di tengah-tengah mengeriputnya akal akibat kebodohan dan kotornya kehidupan akibat kekejian.

Pustakawan seharusnya bisa memasyarakatkan perpustakaan menanam benih-benih pemahaman akan pentingnya sebuah perpustakaan secara menyeluruh, selalu berinovasi atas masalah-masalah yang menyangkut perpustakaan, berusaha membuat bacaannya merata hingga berguna. Bisa di akses siapa saja dan di mana saja, entah itu di kota, di pinggiran, kolong jembatan, pedesaan, hingga pedalaman, maka fungsikanlah perpustakaan untuk kemaslahatan banyak orang bukan sekelompok orang saja, niscaya terciptalah cita-cita bangsa itu.

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles