Ruangan Khusus Kegiatan Pemustaka di Perpustakaan: Bagaimana Implementasinya Jika Diadakan di Perpustakaan Syekh Yusuf UIN Alauddin Makassar?

Oleh: Kelompok II_Sekolah Riset

Bayangkan seorang anak berumur tujuh tahun bernama Baco berada di perpustakaan. Baco adalah anak yang memiliki rasa penasaran tinggi. Dia mendengar dari gurunya cerita Si Kancil dan Kura-kura sebelumnya di kelas. Guru tersebut sempat mengatakan bahwa di perpustakaan sekolah tersedia banyak cerita serupa yang jauh lebih menarik. Maka, dengan penuh keriangan, Baco pergi ke perpustakaan.

Di perpustakaan, Baco bengong memelototi hamparan buku-buku. Dia bingung di buku mana cerita seru itu berada. Dia berjalan mengelilingi rak buku yang penuh warna dan berusaha mencari buku yang dimaksud gurunya. Dengan kemampuan membaca yang pas-pasan yang kadang membuat ibunya memarahinya berkali-kali karena malas belajar, dia menebak. Dia mengambil buku yang berjudul Para Binatang dan terkejut dengan gambar-gambar di dalamnya. Dia senang sekali. Dia susah paya membaca halaman demi halaman. Saat bertemu gambar hewan yang panjang lehernya dan berkaki empat, dia putus-putus mengucap j-e-r-a-p-a-h.

Teman-temannya sedang asyik beraktivitas di perpustakaan. Ada yang saling kejar-kejaran, bermain kereta, ada pula yang bercerita tentang kartun Upin Ipin yang telah mereka tonton semalam. Episode Upin Ipin yang mereka tonton semalam sangat pas dengan suasana perpustakaan saat ini. “Mau ka cari buku yang nabaca Jarjit deh.” Riuhnya suasana perpustakaan ini tidak mengganggu keasyikan masing-masing anak. Dan Baco tidak henti-hentinya mengagumi hewan yang berleher panjang itu.   

***

Beginilah pengalaman kita saat pertama kali bertemu dengan perpustakaan. Hanya ada keceriaan dan antusiasme para pengunjung (pemustaka). Namun, pengalaman kanak-kanak yang indah itu tidak lagi didapatkan sekarang. Kini, ketika kita mengunjungi perpustakaan, yang didapatkan adalah suasana kaku bahkan horor. Hanya ada wajah-wajah seram pustakawan yang memelototi kita kalau kita membaca di tempat yang tidak disediakan oleh mereka.

Pengalaman itu patah. Perpustakaan di sekolah Baco menyediakan kebutuhan bermain yang membuat anak-anak senang mengunjungi perpustakaan. Perpustakaan pada umumnya tidak mengakomodasi desain perpustakaan yang menarik, yang bisa membuat kita tidak bosan berada di dalamnya. Ini yang menyebabkan perpustakaan terkesan sebagai gudang yang menyimpan tumpukan buku, ruangan formal yang kesannya horor untuk dikunjungi.

Sebenarnya, perpustakaan bisa saja menjadi tempat nyaman yang tidak hanya diisi kegiatan membaca saja. Di perpustakaan kita bisa ribut, meributkan pengetahuan-pengetahuan menarik seputar sastra, teknologi, agama, filsafat, dan hal-hal menarik lainnya.

Ini terjadi andai saja perpustakaan membuat ruangan khusus. Kita bisa mengadakan banyak hal di sana seperti berkumpul, berdiskusi seputar bacaan, berekspresi, baca sambil ngopi, bahkan dapat digunakan sebagai ruang konsultasi bagi pemustaka yang membutuhkan informasi terkait koleksi dan informasi yang dia inginkan.

Perpustakaan dan Ruangan Khusus

Harusnya, perpustakaan sebagai ruang publik, mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan pemustaka. Hal paling sederhana yang bisa dilakukan oleh perpustakaan adalah pengadaan ruangan khusus kegiatan di perpustakaan. Keberadaan ruangan khusus ini sangat penting karena menjadi salah satu faktor penentu meningkatnya minat kunjung pemustaka ke perpustakaan.

Sebenarnya, minat kunjung perpustakaan di Indonesia tidak buruk-buruk amat. Faktanya, Indonesia menempati urutan nomor dua di dunia dalam hal keberadaan perpustakaan. “Indonesia memiliki 164.000  perpustakaan, di bawah India yang mempunyai 323.605 perpustakaan,” kata staf ahli bidang pemerintah kementerian dalam negeri, Suhajar Diantoro, dalam Rakornas bidang perpustakaan 2021, Senin (22/3). Keberadaan suatu tempat selalu di dasari oleh banyaknya orang yang ingin berkunjung ke tempat tersebut. Pemerintah dan masyarakat Indonesia menyediakan banyak perpustakaan tentu karena banyak orang yang ingin pergi ke sana.

Namun, minat kunjung yang banyak itu tidak dibarengi dengan rasa puas mengunjungi perpustakaan. Ini disinyalir karena sebagian besar perpustakaan belum menerapkan pengadaan ruangan khusus kegiatan pemustaka.

Sebagai mahasiswa, kami menyadari pentingnya keberadaan ruangan khusus ini. Berada di perpustakaan adalah suatu keharusan bagi mahasiswa, entah itu mengerjakan tugas, membaca, atau menulis. Namun, sebagai mahasiswa UIN yang perpustakaannya tidak memiliki ruangan khusus, terkadang berada di perpustakaan sangat membosankan.

Perpustakaan yang dimaksud adalah Perpustakaan Syekh Yusuf UIN Alauddin Makassar. Padahal Perpustakaan Syekh Yusuf merupakan perpustakaan terbesar di kampus yang menjadi pusat interaksi mahasiswa dengan buku (informasi). Tidak hadirnya ruangan khusus sangat berdampak bagi pengguna perpustakaan.

Dampak tidak adanya ruangan khusus ini menjadikan Perpustakaan Syekh Yusuf terkesan tidak ramah, di mana-mana tertempel stiker QUIET PLEASE!, BE SILENT!yang akan menakut-nakuti pemustaka yang ingin datang untuk berdiskusi.

“Padahal definisi perpustakaan yang baik adalah jika penggunaan bahan pustakanya aktif, tidak pasif. Dan ruang diskusi intelektual mahasiswa juga semakin terbuka di situ.” Kata dosen yang mengampuh mata kuliah Komunikasi dan Media Baru, Nasrullah. 2022, Senin (20/6).

Dosen lain yang menyinggung tentang manfaat keberadaan ruangan khusus ini adalah Saenal Abidin. Sebenarnya, jika ruangan khusus kegiatan pemustaka ini diadakan, disinyalir dapat menaikkan citra instansi tersebut. “Fasilitas di ruangan itu memadai sehingga dapat meningkatkan citra baik bagi perpustakaan tersebut,” katanya. 2022, Senin (20/6).

Beberapa Tanggapan

Selain dari dosen, keinginan akan keberadaan ruangan khusus ini datang dari berbagai kalangan. Banyak dari mereka yang menginginkan perpustakaan hadir untuk memberikan kenyamanan bagi pemustaka.

Meskipun secara model ruang perpustakaan saat ini sudah di lengkapi dengan pendingin ruangan, sayangnya belum menyediakan wadah interaksi yang menyenangkan. Harusnya ini menjadi salah satu pertimbangan bagi pihak pengelola perpustakaan.

Ada beberapa orang yang kami wawancarai terkait perlu tidaknya keberadaan ruangan khusus. Di antara orang-orang itu, terdapat para pemustaka, pustakawan, dan cleaning service. Ketika di wawancarai, mereka mengapresiasi jika diadakan ruangan khusus ini.

“Menurut saya bagus sekali jika diadakan karena tidak na ganggu pengunjung lain. Ka ada yang ribut juga biasa. Kalo diskusi mengganggui,” ujar staf cleaning service, dg. Bollo. 2022, Jumat (24/06).

Ada pula yang keberatan dan berkata, “Susah. Bertambah lagi pekerjaan membersihkan ruangan kalau dibikin ruangan khusus di perpustakaan. Banyak lagi nanti ruangan dibersihkan, banyak jam pekerjaan.”

Ridwan, mahasiswa jurusan Ilmu Falak mengutarakan pendapatnya tentang ruang khusus ini. Menurutnya, sebaiknya perpustakaan membuat ruang khusus karena bisa membantu para pengunjung saat berada di perpustakaan. Dia mengatakan banyak tipe orang yang datang ke perpustakaan, tidak hanya orang yang ingin membaca dan diam.

“Ada juga tipenya orang yang belajar itu membawa makanan. Ada juga tipenya orang membaca atau kerja tugas itu eh kek dengar musik. Nah, kalau diadakan ini ruangan khusus lebih bagus lagi.” Jelas Ridwan.

Tidak sedikit mahasiswa yang kami tanyai menganggap keberadaan ruang khusus ini berarti mengizinkan aktivitas apa saja sesuka penggunanya. Salah satu yang paling sering diungkapkan adalah merokok. “Misalnya ada laki-laki yang ingin berkunjung ke perpustakaan, tapi karena merokoki tidak boleh masuk. Kalau adami ruang khususnya jadi bisami ke sini begitu,” kata Ummul Fitriyah Husain, mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan.

Namun, ketika kami bertanya kepada Hajir, mahasiswa Ilmu Politik, dia malah tidak begitu sepakat. “Memang saya perokok ya. Tapi gak harus juga diadakan itu sebab kadang kita akui bahwa di dalam kampus ini kebanyakan orang pas kita mau diskusi ada yang tidak senang dengan persoalan itu (merokok).”

Meskipun begitu, Hajir tetap menginginkan ruangan khusus ini, “Pengadaan ruangan khusus di perpustakaan itu bagi saya sangat ideal.”

Tidak bisa dipungkiri bahwa publik pembaca UIN, terutama mahasiswa, menginginkan adanya ruang khusus, entah digunakan sebagai tempat berekspresi, diskusi, membaca, kerja tugas, atau hal-hal produktif lain. Sudah seharusnya ini menjadi bahan pertimbangan bagi pengelola perpustakaan karena antusiasmenya begitu tinggi.

Seperti yang diungkapkan oleh salah satu narasumber kami, Lustawer, mahasiswa Ilmu Perpustakaan, bahwa “Perpustakaan sebaiknya hadir untuk memberikan kenyamanan bagi pemustaka.”

Pernah Ada

Ada beberapa hal yang membuat pengadaan ini di dukung oleh Perpustakaan Syekh Yusuf sendiri. Sebenarnya pada periode bapak Quraisy, pada saat beliau menjabat sebagai kepala Perpustakaan di Perpustakaan Syekh Yusuf, pernah ada ruangan yang disediakan untuk baca sambil ngopi. Hal ini di sampaikan oleh pustakawan.

“Memang dulu itu pernah ada membaca sambil ngopingopi, tapi setelah ada pandemi sudah tidak lagi. Tapi untuk ruang diskusi memang belum ada. Jika diadakan lagi itu bagus ya. Nanti kita ajukan ke lantai 4. Itu ada ruangan ber-ac yang tidak terpakai. Itu bisa dipakai untuk diskusi. Lantai 4 nanti kami usulkan di bawah pimpinan,”  terang Ibu Ida. 2022, Jumat (24/6).

Ibu Ida menerangkan lebih lanjut bahwa yang menjadi faktor terhentinya baca sambil ngopi adalah COVID-19. Namun, sekarang COVID-19 sudah berhenti tapi kegiatan tersebut tidak dilanjutkan kembali.

Harapan-harapan

Dengan berbagai tanggapan dan apresiasi yang diberikan oleh pemustaka, ketika ruangan itu dihadirkan di perpustakaan Syekh Yusuf, kita akan melihat interaksi yang intens yang terjadi di perpustakaan. Akhirnya tidak ada lagi yang beranggapan bahwa perpustakaan dikunjungi hanya untuk menyelesaikan tugas saja. Akan ada banyak kegiatan positif yang berorientasi keilmuan di perpustakaan. Perpustakaan tidak terkesan kaku dan menegangkan karena menutup diri dari pembacanya sehingga yang menyenangkan dari perpustakaan tidak hanya ilmunya, tetapi juga tempatnya.

Dengan mengadakan Ruangan Khusus Kegiatan pemustaka di Perpustakaan Syekh Yusuf, Perpustakaan dapat menjalankan fungsi dan tujuannya dengan baik. Tidak hanya untuk memenuhi keperluan informasi civitas akademika yang selama ini telah berjalan dengan baik melalui koleksi-koleksi perpustakaan, tetapi juga perpustakaan juga dapat menyediakan ruangan khusus. Dari sini diharapkan nantinya akan terdapat banyak kegiatan bernuansa intelektual positif dilakukan di perpustakaan.

Tidak berlebihan kiranya jika kami mengatakan bahwa kehadiran ruangan khusus bisa menumbuhkan minat kunjung dan kenyamanan berekspresi di dalam perpustakaan. Ruangan semacam inilah yang dibutuhkan oleh pemustaka.

Penulis merupakan Peserta Sekolah Riset Himpunan Mahasiswa Jurusan Ilmu Perpustakaan (HIMAJIP) UIN Alauddin Makassar

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles