Salah Paham Jurusan

Oleh : Reniati Nur

Konon lintah datang dari sawah turun ke kali, cinta datang dari mata turun kehati. Lalu, dari mana datangnya “Membaca”?. Sebagian orang mengatakan kebiasaan membaca datang dari rumah. Anak-anak yang lahir dan besar dikeluarga yang suka membaca besarnya dia akan suka membaca. Sebaliknya, anak-anak yang datang dari keluarga yang kurang menyukai buku dan bacaan maka besarnya akan sulit untuk suka membaca. Sedikit cerita dari saya merupakan orang yang paling malas membaca. Melihat buku pun seakan melihat buku itu dipenuhi duri. Berat mengangkatnya seperti batu sepuluh kiloan.

Saat pendaftaran keperguruan tinggi, saya disarankan oleh  guru di sekolah untuk memilih jurusan Ilmu Perpustakaan di Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Menurut kebanyakan orang jurusan ini sedikit banyaknya berkaitan dengan buku-buku, jurusan ini merupakan pilihan terakhir karena saya termasuk orang termalas membuka buku. Basic saya bukan disini saya lebih suka seni dan budaya salah satunya adalah menari, mengingat saya merupakan penari legong dan ini sudah menjadi hobi sejak masih di tingkat sekolah dasar. Saat memegang buku saja, hanya melihat sampul dan akhir lembaran buku itu serta menjadikannya objek dibeberapa media sosial. Dengan  memilih jurusan ini pasti ada rasa keterpaksaan dalam diri tetapi pada akhirnya saya lulus di jurusan ini juga.

Disaat mulai menginjakkan kaki di kabupaten Gowa, daerah yang berseberangan langsung dengan ibu kota Sulawesi Selatan yaitu Makassar (Gowa adalah kota yang paling terpengaruh oleh kegemilangan kota Makassar). Pada saat itu hari pertama saya menjalankan kehidupan baru sebagai seorang mahasiswa, inilah urutan tertinggi dari seorang pelajar. Mengendarai kuda beroda ungu menuju kampus. Menaruh harapan di benak semoga kehidupanku akan lebih baik saat menempuh tingkat ini. Berbicara masalah jurusan yang saya jalani dengan keterpaksaan, ditambah lagi banyak orang di luar sana yang menganggap enteng jurusan ini, saya hanya berfikir pendek dan apatis dengan mereka. Tidak mau mengulur keterpaksaan ini hingga di puncak jenuh, saya berpikir positif saja.

Setelah saya jalani dengan banyak penjelasan mengenai apa sebenarnya Ilmu Perpustakaan itu, saya mulai membuka mata dan hati untuk menjalani keterpaksaan ini. Banyak artikel menarik yang mengandung makna pengetahuan yang pernah terbaca. Namun ada satu artikel yang tidak akan pernah saya lupa, karena menguak tentang tingkat pustakawan ternyata paling dianggap mulia dari seorang dokter. Katanya tak ada dokter jika tak ada buku mengandung pengetahuan yang bisa menjadikannya seorang dokter. tak ada buku jika tak ada perpustakaan, dan tidak ada perpustakaan yang akan berjalan dengan baik tanpa seorang pustakawan yang menjalankannya.

Saya pernah menonton sebuah film adaptasi dari kisah nyata tentang seorang bocah pengidap penyakit aneh. Para dokter angkat tangan karena tidak sanggup menyembuhkannya, mereka tidak dapat mengetahui jenis penyakit yang diderita oleh bocah tersebut. Tetapi kedua orang tua bocah tersebut, saking besar cintanya kepada anaknya dan dengan ketekunan yang sangat luar biasa, mengerahkan seluruh upayanya untuk mencari segala macam informasi tentang penyakit anaknya. Mereka keluar masuk perpustakaan untuk membaca di semua rak-rak buku, jurnal, majalah, Koran, dan berdiskusi dengan para ahli. Setelah melalui penelitian yang amat panjang, mereka akhirnya berhasil mengidentifikasi penyakit yang diderita anaknya selama ini dan menemukan obat penyembuhnya.

Hal tersebut membuktikan bahwa buku dan perpustakaan sangatlah penting bagi kalangan masyarakat, saat ini saya mulai merasa apa yang saya jalani sekarang tidak lagi terpaksa. Seperti ingin mendalami Ilmu Perpustakaan ini untuk mengurus buku-buku yang akan mengurus masa depan peradaban. Tak ada peradaban jika tak ada media penunjang kecerdasan manusia. Saat saya mulai membaca, dalam buku yang berjudul “Penghancuran buku dari masa ke masa” buku yang ditulis Fernando Baez, dari buku tersebut saya sadar bahwa buku sangatlah penting bagi peradaban manusia. Dalam buku tersebut seorang bernama Borges berkata: “Dari berbagai instrumen manusia, tak syak lagi yang paling mencengangkan adalah buku. Yang lain adalah perpanjangan ragamu. Mikroskop dan teleskop adalah perpanjangan penglihatan; telepon adalah perpanjangan suara; lalu kita memiliki bajak dan pedang, perpanjangan lengan. Namun buku berbeda: buku adalah perpanjangan ingatan dan imajinasi.” Saat ini yang membuat hati saya luluh lantak adalah ketika saya membeli buku tetapi tidak membacanya. Saya sekarang menjadi Open minded person berkat keajaiban buku. I REALLY NEED BOOK, Mungkin ketika lulus saya akan kembali ke masa di mana harus memperbaiki habitat yang pernah sedikit waktu membinaku untuk menjadi manusia. Bertekad bahwa dengan perpustakaan akan bisa membuat saya tidak buta aksara dan pengetahuan.

Aktualisasi pengetahuan akan terus ada selama ada perpustakaan. Namun tidak bisa memastikan akan ke habitat atau mungkin akan terdampar di daerah pelosok yang belum mengerti pentingnya membaca dikarenakan tidak ada perpustakaan yang dapat menembusnya, ataupun akan terdampar di kota yang penuh dengan penghancuran budaya baca karena hadirnya gawai yang membuat para generasi milenial malas untuk berpikir dan membaca. Yang pastinya saya akan mengajak diri dan teman-teman untuk merangsang otak dengan cara membaca agar bisa mengamuflase diri dan memberontak kepada ketidak adilan ataupun penyimpangan pada kebenaran.

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan Ilmu Perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, semester V.

Berita sebelumyaTaman Para Pecinta
Berita berikutnyaApakah Sudah Sesuai?

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles