Wisata Yang Terabaikan

Oleh : Reniati Nur

Memakai kuda beroda ungu dengan kelajuan tujuh kilometer perjam, mengunjungi salah satu gedung di Kabupaten Gowa yang menurut kebanyakan orang gedung ini adalah sarana perangsang ingatan dan imajinasi, tempat menjawab rasa penasaran kita.

Gedung ini mungkin sudah beberapa kali kita kunjungi. Yah, Perpustakaan. Kata perpustakaan sudah lumrah kita dengar khususnya seorang pelajar. Perpustakaan adalah tempat ternyaman untuk merusak ketidaktahuan, tempat yang selalu di impikan para pecandu dan perangsang aksara. Berduskusi dan berembuk bersama kolega yang sangat ingin memberontak kebodohan pada kepalanya dan ingin memuaskan keingintahuannya.

Tetapi, hanya segelintir dari banyaknya orang yang menjadikan perpustakaan sebagai sarana mengembangkan pengetahuannya. Menurutnya, Cukup dengan menggunakan gadget lalu menelusur di google.

Selang beberapa waktu, saya terdiam menatap pustakawan yang sibuk berkutat dengan gadget nya dan hanya 4 orang yang mengunjungi perpustakaan tersebut. Ironisnya, perpustakaan sekarang tidak sesuai esensinya. Sunyi, seperti membayangkan apartemen yang dalam keadaan kosong tak berpenghuni tetapi juga seperti bau kamar yang terlalu lama di tutup. Saat memasukinya pikiran kita berkeliaran, seperti ingin membawa bantal lalu tertidur didalamnya.

Tempat yang kuanggap tampak abadi ini membuatku terengah-engah, mendadak muncul asap merah di otakku, kabut merah di depan kedua mataku, sesuatu yang merah berteriak di kerongkonganku. Amarahku membabi buta, hati tercabik cabik saat sesuatu yang kucintai terabaikan.

Seyogiyanya perpustakaan adalah tempat relaksasi intelektual dan buku adalah medianya yang dipenuhi aroma bunga mawar yang tampak sesegar dan sealami daun selada, udara yang eksotis dan kursi yang beraturan serta orang-orang berdatangan seperti menjumpai wisata terindah di dunia. Salah satu teman saya mengibaratkan orang buta adalah orang yang tidak pernah membaca walaupun matanya masih dapat melihat keindahan visual di setiap kalimat pada buku dan orang yang tidak bisa bisa mencium bau semerbak buku baru adalah orang mati berjalan.

Ketika berbicara tentang buku dan perpustakaan, dalam buku yang ditulis Fernando Baez berjudul “Penghancuran Buku dari Masa ke Masa” mengatakan bahwa Buku dan Perpustakaan adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Buat para Newbie mungkin ada sedikit kendala untuk membiasakan diri untuk membaca. Tetapi ketahuilah bahwasanya dengan membaca kita lebih Open Minded, belajar berpikir kritis dan bisa mengetahui semua hal yang ada di antero dunia.

Orang-orang kutu buku adalah orang-orang gaul karena menggauli peradaban. Maka dari itu, Jadikan perpustakaan sebagai wisata intelektual termegah yang ada di antero dunia dan buku sebagai wahananya

*Penulis merupakan mahasiswa jurusan ilmu perpustakaan, Fakultas Adab dan Humaniora, semester V.

Berita sebelumyaAyah
Berita berikutnyaGuru Pahlawan Literasiku

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
Iklanspot_img

Latest Articles